|
Wednesday, October 21, 2009 @ Wednesday, October 21, 2009
Bunda...
di post di FB tgl 28 Agustus Bu...hari ni genaplah sudah 17 tahun semua berlalu. Bukan waktu yang singkat Bu, dan tentu saja bukan hal yang mudah untuk meninggalkan perasaan sedih jauh ke sungai hingga mengalir terus ke muara. Bu,apakabar Ibu disana ? Ibu baik baik saja khan ? Semoga Allah memberikan ibu tempat yang lapang, hangat serta benderang disisinya. Bu, semua berjalan cepat waktu itu. Ibu mengeluh demam, lalu tiba tiba tak bisa melakukan apa. Semua panik meski adalah hal biasa dalam dua tahun sebelumnya Ibu menjadi langganan tetap rumah sakit itu. Tapi siang itu keadaan menjadi lain dan berubah dengan cepat tanpa bisa dikendalikan. Asma yang kambuh, tekanan darah yang fluktuatif serta tenaga yang kianmelemah dan diperparah tidak ada orang di rumah. Semua sibuk, kamisekolah, dan tetangga juga tidak begitu mengetahui keadaan itu. Bu, masih saja ingat betapa kejamnya rumah sakit itu. Memang "Orang Miskin Dilarang Sakit". Tapi bukankah kita mempunyai jaminan bahwa kita tidak akan lari. Memang ajal ditangan Tuhan, tapi petugas apotek sialan itu ikut andil mempercepat datangnya Izrail. Semoga Allah mengutuk nya. Amiin. Bu, kini sudah 17 tahun berlalu, semua berjalan sebagaimana memang sudah diatur Yang Maha Kuasa. Semua anak anakmu sudah berkeluarga, dan memberimu cucu. Semua juga mengarungi samudra hidupnya sendiri, meski hanya Bo yang berani meninggalkan kota itu, bahkan rumah itu. Tapi Bu, tidak sedetikpun pikiran keluar dari kehidupan di rumah kita, sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas di depannya. Bu, terkadang timbul pertanyaan kapan kita semua akan berkumpul kembali, tidak banyak rasanya waktu yang bisa kita lalui bersama. Itulah nasib ya Bu. Kau harus berangkat bekerja ketika kami semua masih lelap dibuai mimpi dan pulang ketika kami semua juga sudah terdampar di pantai mimpi yang lain. Kata tetangga itulah resiko jadi anak pegawai negeri. Aku ingat meski hanya beberapa kepingan yang bisa disatukan, kita tinggal di gang sempit di Siteba, lalu berpindah ke Rd Saleh. Katamu Bo lahir dirumah itu, tidak sempat dibawa ke rumah sakit dan sunsang. Akh...memang bandel, sudah tidak sabaran, salah langkah pula. Bu, Bo minta maaf telah mengecewakan Ibu. Bo tidak bisa menyelesaikan sekolah di tempat yang Ibu inginkan. Meski terasa aneh, sekolah disana memang menyenangkan, namun Bu, Bo bukan seorang penggemar pelajaran ilmu pasti. Bagaimana mungkin Bo bisa konsentrasi belajar di sekolah yang penuh dengan zat zat kimia, peralatan laboratorium canggih jika di rumah semua buku buku bacaan adalah buku sejarah yang terlalu seksi untuk tidak disentuh dan dibaca. Ah Bu..itulah kesalahan kita. Bo juga heran, kenapa bisa lulus dan diterima sekolah disitu dengan peringkat lumayan tinggi sementara nilai ilmu pasti di SMP hanya pas pasan. Aneh dan itulah dunia, dia menghadirkan apa saja yang tidak pernah kita duga. Bu, waktu terus berjalan, langkah terseok tertatih menarik diri keluar dari semua ketidakpastian. Beruntung Bu, Ibu memiliki adik dan orang tua yang mau menjaga kami, dan melindungi kami, meski beberapa kali kami harus menjaminkan SK Pensiunmu ke Bank untuk biaya hidup dan sekolah kami berempat. Bahkan warisanmu juga kami jual agar sekolah kami semua selesai tepat waktu. Bu, Bo belum cerita ya kalau Bo pernah jadi penjual sandal, pendaki gunung, ikut panjat tebing segala, penjual sate, calo mobil bekas, tukang catut karcis lapangan bola, penyiram bunga, Ball boy lapangan tenis dan seabrek profesi halal lainnya. Semuanya Bu, semuanya hanya untuk bertahan hidup agar tidak tergilas keganasan roda roda nasib. dan Allhamdulilah Bu, semua dijalani dengan harapan hidup akan berakhir manis. Bu, Bo ingin sekali pulang, seperti dulu, duduk dan ikut kemana ibu pergi. Menikmati smur tahu kecap buatan Ibu, telur dadar, atau sambal semut api. Bu, sumpah Bo ingin itu. Tapi itu tidak mungkin ya Bu, tidak akan pernah mungkin terjadi. Bu, Bo juga mau minta maaf entah untuk keberapa kali, Bo belum sempat pulang ke Padang, masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan disini. Doain ya Bu semua kerjaan Bo bisa diselesaikan dan lebaran nanti bisa pulang dan menemui Ibu. Udah ya Bu, semoga damai dan tenang disana. Bo selalu kirim Al Fathehah kepada ibu, mendoakan agar keselamatan menjadi milik Ibu. Sembah sujud ananda |
|
|
@ Wednesday, October 21, 2009
In Memorium Harfianto (Wartawan POSMETRO PADANG)
Saya tidak mengenalnya dengan akrab, karena memang keadaannya begitu...namun sekali bertemu dengannya di ruang redaksi POSMETRO PADANG tahun 2008 lalu sudah cukup bagiku untuk mengenalnya sebagai siapa dalam menjalani kehidupan. Berkaca mata, sedikit sipit dan berambut rada rada keriting, ia adalah seorang yang cerdas dan penuh imajinasi. Kami memang tidak bertegur sapa, apalagi berjabat tangan sebagaimana layaknya orang yang berkenalan. Maklum perkenalanku denganya terjadi didunia maya ketika kami sama sama bertukar komentar di blog masing masing. Ia adalah si http://orangmiskin.wordpre Tidak ada pertemuan selanjutnya baik di dunia maya maupun di dunia nyata, hingga kabar buruk aku terima dari seorang kawan yang mengabarkan dia dirawat dan akan menjalani operasi di kepala. Sungguh mengejutkan, dia yang aku lihat sehat justru akan menjalani operasi di kepala. Barulah ketika sebuah kabar konfirmasi datang saya jadi tahu apa yang terjadi. Di blognya, ia begitu sederhana dengan bahasa yang humanis. Sederhana juga bersahaja karena dia dengan tegas menyebut diri sebagai orang miskin dan tengah terdampar di dunia yang bergegas (Harfianto---Lahir beberapa tahun yang lalu di sebuah kampung. Pernah kuliah di Universitas Andalas, dan kemudian terdampar di dunia yang selalu bergegas, dunia jurnalistik). saya juga banyak membaca tulisannya baik berupa reportase kesehariannya maupun pandangan atau oponinya terhadap sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakannya sendiri. Siang yang terik sebelum kabar kepergiannya datang, aku sempat bertanya kepada Bambang dan Titin dua rekannnya sesama wartawan tentang keadannya dab apa penyebab pasti dia tertimpa musibah itu. Entah karena sudah cukup tahu atau memang berpengalaman, aku langsung saja mengatakan pada Bambang dan Titin bahwa kalau begitu keadannya secara medis sudah sangat tipis harapan untuk mengembalikan Anto kepada kita semua. Biarlah Tuhan berkehendak dan mari kita menerima dengan lapang hati dan tawakal. Dan baik Bambang maupun Titin juga tidak bersuara apalagi mengiyakan. Kini, malam ini ketika kabar kepergiannya benar benar nyata aku membaca kembali blognya, sebuah reportase tentang keadaan pasca gempa bumi yang melanda Padang pada 30 Oktober lalu. Sebuah reportase yang ia janjikan akan disambung. Reportase yang menggugah karena ia sendiri menjadi aktor dalam peristiwa itu, namun sudah pasti ia tidak akan melanjutkan ceritanya. Anto, tidak perlu lanjutkan tulisan itu, karena kami sudah tahu apa yang terjadi. Selamat jalan kawan, Tuhan memberkati. sila juga di klik : http://orangmiskin.wordpre http://orangmiskin.wordpre |
|
|
@ Wednesday, October 21, 2009
Gamawan dan Kita yang Gelisah (sebuah ungkapan mangalasau)
Semua orang berkomentar ketika Gamawan dipanggil SBY ke CIkeas untuk diwawancarai dan dijadikan sebagai salah satu mentreri di kabinetnya. Ada komentar yang mendukung habis habisan, sekedar mendukung saja dan berucap selamat, ada yang optimis Gamawan akan berhasil namun ada juga sebaliknya yang bersuara keras menentang. Apalah kita ini, Presiden bukan, penguasa bukan. Gamawan jadi Menteri apa urusan kita, apa untungnya bagi kita kalau Gamawan jadi Menteri, ada dunsanak kita yang akan diajaknya masuk ke Departemen yang akan dipimpinnya itu atau sebaliknya ada dunsanak kita yang akan tercampak kalau Gamawan duduk disana. Ini bukan soal sikap tidak peduli atau apalah namanya dalam bahasa Minang. Tapi mari bersikap biasa biasa saja, Gamawan jadi Menteri itu khan karena ada yang memilihnya dan sudah garis hidupnya pula bahwa pada Bulan Oktober ini dia dilantik jadi Menteri (Insya Allah). Saya mau berbagi cerita sedikit di palanta ini, dulu sekali ketika masih bersekolah dengan celana merah sampai biru, setap bulan Maret setelah Suharto kembali jadi Presiden RI, banyak orang di Padang (waktu itu) bergeduru di depan TV untuk menonton Suharto yang mengumumkan nama nama pembantunya. Dan kita waktu itu mulai dengan catatan siapa nama orang Minang, peranakan Minang, minantu orang minang atau berbaun minang yang jadi Menteri. Begitu bangganya kita akan hal itu. Bersorak keliling rumah tanda senang ada juga orang minang yang jadi Menteri. Bagolak benar rasa hati jika orang minang atau berbaun minang itu jadi menteri setiap tahun bertambah. Sampai pada suatu waktu Tuan Gus Dur tidak memasukkan satupun nama orang minang duduk di kabinet. KIta mengerutu, menyumpah bahkan mencela Gus Dur. Gus Dur kita cap lupa akan sejarah dan tidak memahami faktor faktor keseimbangan etnis. Obat luka dalam akibat "ditinggalkan" Gus Dur itu datang pada waktu Megaawati menggantikan Gus Dur. Pun kita dengan tanpa malunya ada yang menyebut bahwa Megawati itu ibunya berasal dari Minang yang merantau ke Bengkulu. Segala macam tali temali kita tautkan agar tersambung dan melegitimasi khayalan kita bahwa benarlah adanya Megawati itu beribukan wanita Minang yang merantau ke Bengkulu. Ada ada saja. Tradisi orang Minang jadi Menteri terus terpelihara hingga kini. Setelah pada Kabinet IB jilid I nama orang Minang masuk dalam jajaran, kali ini pun kita beroleh berkah (kata sebagian orang) karena orang minang ada di dalam kabinet. Sekarang mau apa kita orang luar ini. Saya menyebut kita orang luar karena bukan kita punya kuasa untuk mengiyakan atau juga meng-indak-kan keinginan SBY. Siapalah kita. Gamawan jadi Menteri Dalam Negeri, Patrialis, Nila A Moeloek, Uniang Linda, Tifatul Sembiring tentu ada untungnya bagi kita, paling tidak untungnya ada anak kemenakan kita, uda kita, adik kita yang jadi orang dan bisa keluar masuk istana. Kebanggan kata orang berbahasa indonesia. Soal dia berhasil atau tidak berdoa sajalah. Soal adanya tanggapan dari pengamat dia pantas atau belum pantas itu hak pengamat juga. Tentu mereka bicara ada dasarnya, atau ada referensinya. Yang menyebut Gamawan belum pantas tentu dari kacamatanya, dan sebaliknya juga begitu bagi yang menyebut Gamawan sudah pas untuk posisi itu, termasuk SBY sendiri. Saya tidak hendak mendukung pilihan SBY atau juga menolaknya karena saya tidak memilih SBY, jadi sebagai orang kalah (karena saya memilih JK) saya tentu tau diri dan tidak mau campur dalam urusan ini. Lagipula siapa saya, saya mengenal SBY, tapi SBY itu benar yang tidak kenal saya. Ha ha ha... Hikmah dari jadi jadi menterinya Gamawan adalah seperti kata Benni, terbuka kesempatan bagi kaum muda minang untuk ikut berpacu menuju kursi Sumbar 1. Dukung sajalah Gamawan itu jadi menteri baik untuk dia dan tentu baik untuk sebagian kita yang mendukungnya. Saya cuma berharap, kita orang minang ini marilah berkaca pada masa lalu dan merencanakan sesuatu yang lebih baik dimasa depan dengan potensi dan realitas sumber daya yang ada. Minang ini sudah cukup lama terpuruk. KIta harus bangkit. kita harus berbenah agar tidak tergilas. |
|
|
Monday, July 13, 2009 @ Monday, July 13, 2009
Prasasti... Di halaman ini tertatam sebuah prasasti dan coretan grafiti...sudah lama tidak berkunjung dan menikmati gelombang...tapi hanya sesaat, aku harus melangkah lagi...suatu hari, akan berkunjung lagi... |
|
|
Sunday, January 04, 2009 @ Sunday, January 04, 2009
RESOLUSI NOMOR I/JAN/2009
DENGAN MEMPERHATIKAN KEADAAN SEKITAR YANG SEMAKIN TIDAK KARU KARUAN, SERTA MEMPERTIMBANGKAN KONDISI KEUANGAN YANG JUGA WAWUT WAWUTAN, MAKA DENGAN INI SAYA MENGELUARKAN RESOLUSI : 1. AKAN LEBIH BANYAK DIAM DIRUMAH DI HARI LIBUR--->Kebiasan "malala" hrs dikurangi 2. MENGHINDARI MAKAN DI WARUNG PADANG---> Mahal dan kadang nggak ada tarif resmi DEMIKIANLAH DAN TERIMA KASIH |
|
|
@ Sunday, January 04, 2009
Clash Action
Berita soal tingginya kunjungan wisatawan ke Sumbar ko memang alah acok bana dimuek baiak dek koran lokal maupun oleh media lain di Padang...bagi ambo itu sah sah sajo, namun dari sisi jurnalistik (dek karano ambo pernah jadi wartawan) sangat disayangkan karano sumber dari berita ko cuma kapalo dinas pariwisata surang se... ciek lai...dalam pandangan ambo, apo yang disampaikan oleh kepala dinas dan direkam serta diberitakan mentah mentah oleh wartawan ko sangat tidak masuk akal darima Pak Kapalo Dinas ko maambiak data..? apakah dari angka kedatangan penumpang di Bandara, atau dari angka penjualan karcis ke tempat wisata sangat tidak jelas dan tidak pula di jelaskan oleh kedua belah piak yang menurut ambo alah samo samo manjua kecap. Kalau data yang diambiak adalah data penumpang pesawat terbang di Bandara Internasional Minangkabau maka kacau balau lah sadonyo...sebab (sebagai bahan masukan) salamo bulan Oktober sampai Desember ko se ambo alah 9 kali bolak baliak ka Padang melalui BIM. dan baitu juo dengan kawan atau dunsanak lainnyo. AMbo pernah batamu dan maota lamo jo Da Ade (dulu di Rimbun Sumatera Tours and Travel) inyo juo heran sebab sapangatahuan inyo jumlah kunjungan wisatawan tidak mengalami kenaikan yang signifikan do.. Ambo kiro dalam dalam hal iko MAPPAS sebagai lembaga yang peduli dengan pariwisata hrs mengeluarkan pernyataan agar kekeliruan ko indak balanjuik taruih doh atau setidaknya minta klarifikasi soal angka kunjungan yang fantastis tu.. Ciek lai ambo dalam beberapa hari ko acok ceting jo kawan kawan yang mangadu banyak koleganyo membatalkan kedatangan ka Bukiktinggi gara gara Walikota ma'agiah baju ka Jam Gadang tu.. Ambo kiro agar penutupan jam gadang ko indak jadi event tiok tahun yang akan merugikan wisata Sumbar, ancak awak kumpuakan tanda tangan untuak menolak PENUTUPAN JAM GADANG pada tahun berikutnya..dan sekaligus mewacanakan untuk melakukan gugatan CLASH ACTION terhadap Walikota Bukittinggi karano keputusannyo MENUTUP JAM GADANG.. Kenapa Clash Action/Legal Standing dan kenapa pula hal ini perlu kita lakukan khususnya kawan kawan di ASITA dan PHRI karena Jam Gadang bukan lagi menjadi milik orang Bukittinggi namun Jam Gadang sudah menjadi ikon nasional dan ditetapkan sebagai salah satu lokasi tujuan wisata indonesia. Kita sering melihat iklan iklan di TV, Majalah, adanya gambar Jam Gadang dalam iklan promosi pariwisata Indonesia. Jadi dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa keputusan pemerintah kota Bukittinggi menutup Jam Gadang adalah sebuah tindakah yang sangat disesalkan dan tidak menghormati aset budaya dan pariwisata nasional. |
|
|
Wednesday, December 31, 2008 @ Wednesday, December 31, 2008
Selamat tahun baru...
|
|
|
Monday, October 06, 2008 @ Monday, October 06, 2008
Pergi..
Sesungguhnya ia sudah memberi sinyal jauh sebelum apa yang disampaikannya jadi kenyataan, dan sore yang diguyur hujan deras ini, ia benar benar membulatkan tekad menuntaskan pengabdiannya. Selamat kawan, selamat menempuh hidup baru, bukankah hidup adalah sebuah pilihan dan kita tentu harus siap dengan segala bentuk resiko dari pilihan itu. |
|
|
Tuesday, August 26, 2008 @ Tuesday, August 26, 2008
Aku masih disini
Aku masih disini, setia dengan kesendirian, kekosongan. |
|
|
@ Tuesday, August 26, 2008
Kambuh....
Sakit di kaki dan bahu ini kambuh lagi.. |
|
|
Tuesday, August 05, 2008 @ Tuesday, August 05, 2008
Chat With Pien
sweet_pien: kok dipajang lagi sich foto tato itu Silahkan nilai sendiri...untuk sementara aku butuh waktu tuk berbegosiasi dengan diri sendiri |
|
|
@ Tuesday, August 05, 2008
IJP Selemat Menempuh Hidup Baru
Dalam kereta listrik yang mengantarkan saya pulang dari kantor di kawasan Cikini Menteng ke Depok pekan lalu, telepon genggam saya berbunyi memberitahukan ada panggilan masuk dari keluarga dekat. Segera saya membukanya dan melihat nama analis politik CSIS Indra Jaya Piliang memanggil. Saya segera menjawab, maklumlah ini pasti ada kabar dari keluarga kepada kerabatnya yang lain. Setelah berbasa basi menanyakan keadaan dan sedang berada dimana, saya segera mendapatkan permintaan Indra untuk mau bertemu keesokan harinya di sebuah warung minum teh di kawasan Senopati Jakarta Selatan. Secara hirarki kekeluargaan, memang saya berada satu generasi diatas generasi IJP, saya adalah adik ibunya Indra dari nenek kami yang sama, namun secara hirarki profesi, IJP adalah atasan saya di Yayasan Harkat Bangsa Indonesia Centre yang dulunya bernama YHB Centre. IJP adalah Direktur Eksekutif sementara saya hanyalah staf dengan posisi semenjana di LSM penelitian tentang politik, otonomi daerah dan parlemen lokal itu. Jadilah keesok harinya saya, dan IJP bertemu dengan beberapa staf peneliti YHB lainnya, ada ES Ito yang pengarang buku laris manis Negara Kelima dan Rahasia Mede, dan beberapa saat juga datang peneliti politik LSI Miftah N Sabri serta beberapa teman lain. Pokok pembicaraan kami adalah IJP secara resmi mengumumkan kepada YHB Indonesia bahwa ia akan segera mengakhiri kesehariannya sebagai peneliti/analis politik dan perubahan sosial di tanah air untuk kemudian menjadi seorang politisi. “Ambo nio jadi caleg dan partainyo alah ado,” begitu kata IJP kepada saya siang itu. Kontan pernyataan yang tiba tiba ini membuat saya kaget, apa kata dunia nanti jika seorang IJP yang selama ini memakai jaket netral dan menjadi komentator pertandingan politik kini malah berubah menjadi pemain politik, tentu ini sebuah berita besar dan sudah barang tentu membuat dunia ilmuan politik menjadi kehilangan seorang analis yang tajam, dengan komentar dan pernyataan yang berani. Memang, menjadi pemain politik sebenarnya bukan hal baru bagi IJP, pada tahun 1998 lalu, ketika Amien Rais dan bersama aktifis gerakan pro reformasi lainnya mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN), IJP sudah masuk sebagai fungsionaris di partai itu meski kemudian pada tahun 2001 ketika Kongres PAN ia bersama Faisal Basri dan beberapa nama lainnya menyatakan keluar dari PAN karena alasan perbedaan pandangan. Dalam rentang waktu hampir sewindu lamanya IJP kemudian lebih dikenal sebagai analis politik/perubahan sosial dan orang yang sering dimintai komentarnya tentang situasi politik dan pemerintahan baik oleh media cetak maupun elektronik. Bagi saya ketika berbicara dan bertanya kepada Indra apa yang membuat ia kemudian memutar haluan hidupnya dari seorang analis politik ke politisi, dari pengamat ke pemain dan dari pinggir lapangan ke dalam lapangan. Ia hanya menjawab singkat, bahwa sudah saatnya ia masuk ke gelanggang politik. Saya jadi ingat tulisan yang tidak sempat saya kirimkan ke media massa, tentang tantangan saya kepada cendikiawan muda untuk berpolitik. Meski sebelumnya sudah ada Rama (Pratama-pen), Anas (Urbaninggrum) dan banyak nama lainnya. Namun bagi saya sinyal yang dikirim oleh Rama dengan berhasil menaklukan DKI Jakarta pada pemilu legislatif tahun 2004 lalu, serta sinyal kuat lainnya dari Anas yang menjadi bagian dari partai pemerintah tidak serta merta merubah keinginan anak muda lain untuk berpolitik. Stimulasi serupa juga dilakukan oleh bukti otentik penentang Orde Baru Bung Budiman Sudjatmiko dengan memulai dari organisasi sayap PDI-P dengan REPDEMnya. Saya kira, Indra telah memberi sinyal lain kepada kaum intelektual muda untuk mau terjun ke politik praktis dengan menggunakan kendaraan partai politik. Jika Fadjroel Rahman, Ratna Sarumpaet, Rizal “Celly” Malarangeng memilih untuk mengajak kaum muda untuk maju secara sendiri-sendiri, namun tidak demikian dengan Indra. Tanpa partai politik saat ini, keniscayaan akan terpilih masih jauh dari harapan. Partai (menurut hemat saya) masih menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Saya juga tidak hendak mematahkan semangat sebagian calon indipenden yang saat ini tengah berlaga di pilkada langsung khususnya di Padang bahwa tanpa partai mereka tidak akan ada apa apanya. Namun berpartai saat ini adalah solusi untuk itu yang masih cukup ampuh. Hari ini atau tepatnya pagi ini Indra akan menyampaikan pidato politik pertamanya sebagai seorang politisi. Untuk kemudian Indra tidak lagi kita sebut sebagai IJP yang peneliti politik atau orang CSIS, namun Indra atau IJP yang politisi Partai Golkar. Indra juga menyebutkan konseksuensi dari pilihannya tersebut. Saya pernah bertanya kepada Indra, kenapa kendaraan politiknya Golkar, kok tidak partai lain semisal kembali ke “rumah” PAN, atau ke PBB karena secara historis dan emosional kami sekeluarga lebih dekat ke Masyumi yang bereinkarnasi dalam bentuk PBB, atau ke partai politik baru yang lahir sebagai alternative dari partai politik lama. Indra hanya menjawab bukankah sudah membaca hasil hasil survey dari lembaga lembaga survey terkemuka. Selain itu, dibalik ini semua, ada aktor lain yang memasukkan Indra ke Partai Golkar. Indra dalam pidato politiknya yang dibacakan hari ini dan saya diberi kehormatan untuk membacanya lebih dahulu bersama Benny Innayatullah peneliti politik dan perubahan di The Indonesian Institue dan ES Ito serta Miftah di YHB Indonesia menyebutkan nama nama seperti Prof.Dr.Azyumardi Azra, dan Prof.Dr.Djohermansyah Djohan mempunyai andil dalam memasukkan nama namanya kedalam Partai Golkar. Hari ini, kabar telah sampai ke gelanggang, Indra sudah mengikatkan dirinya pada Partai Golkar, dan saya berharap ini adalah “pernikahan” terakhir Indra dengan partai politik. Cukuplah ia menghabiskan sisa umur politiknya dan menjalani hari hari demi dengan partai ini. Ketika alasan sudah dipaparkan oleh IJP, dukungan dari ranahminang seperti shalat mencari imam, tak ada yang perlu menggugatkannya. Justru dengan doa restu yang tulus. Seorang anak nagari yang berangkat lagi ke Jakarta sana membawa sekeranjang harapan dari daerah… |
|
|
Wednesday, July 30, 2008 @ Wednesday, July 30, 2008
Lembaran lama
Sesaat setelah membuka album lama di http://www.photobucket.com/ aku seperti merasa kembali menemukan sesuatu yang hilang. Entah apa itu, namun serasa mendapatkan kembali barang berharga yang hilang. Kenangan lama, cerita lama dan rentetan kejadian kembali muncul silih berganti memenuhi ruang otak. Mengaduk emosi, mempermainkan kenangan hingga mampu membuat tersenyum, tertawa bahkan berlinang air mata. Sungguh aku terbiasa untuk memaafkan semua kesalahan orang padaku, namun seperti kata Bu Erni (entah dimana dia sekarang yang jelas kerja di BNI) aku gampang memafkan, namun teramat sulit melupakan. Benar, itulah Boby Lukman, dengan mudah memberi maaf pada siapa saja, namun teramat susah untuk menghapus semau kesalahan itu dari ruang otak dan ingatan. Aku bersusaha menghilangkan tabiat itu, sekuat tenaga, namun masih saja sulit. entah sampai kapan akan terus begini.. |
|
|
Thursday, July 24, 2008 @ Thursday, July 24, 2008
Maka bergeraklah gerbong orang muda
Beberapa waktu yang lalu, saya mengirim sebuah email ke mailing list komunitas orang minang, saya memprotes majunya kembali para orang tua dalam pemilihan kepala daerah, anggota DPD, DPR-RI dan DPRD. Bukan karena saya takut bersaing atau jago saya akan kalah jika harus bersaing dengan orang tua itu saya memprotes, namun karena keprihatinan saya akan mundurnya gerakan alih generasi di negeri ini dan negeri kampung halaman saya tentunya. Awalnya postingan saya tersebut mendapat respon yang baik, bahkan beberapa teman sebaya, serta senior mendukungnya sebagai sebuah sikap yang berani mengkritik orang tua. Sahabat saya Abdullah Khusairi sampai mengirimkan sms bernada salut, namun yang namanya dinamika tentu saja ada yang menolak dan ada juga yang mendukungnya. Sebagian para ornag tua mendukung apa yang saya katakan, namun sebagian mengkritiknya dengan halus dan mengatakan bahwa hak berpolitik (dipilih dan memilih) tidaklah ad batasan usianya. Sejujurnya saya ingin mengatakan bahwa memang tidak ada batasan usia untuk berpolitik baik itu politik aktif (berpartai dan mencalonkan diri) maupun politik pasif (dipilih dan memilih), akan tetapi ini soal keberlanjutan dan fatsun yang selama ini kita fahami. Orang tua seharusnya memberi jalan dan kesempatan pada kaum muda untuk mau ke depan dan mengambil alih kepemimpinan. Memang benar bahwa tongkat estafet tidak diberikan sambil berhenti, akan tetapi sambil berlari sprint, namun jika pelari yang memegang tongkat tidak melepas tongkatnya, maka akan terjadi perebutan yang berbuah keiadian memalukan. itu jelas tidak kita inginkan. |
|
|



