BeElPe Arsip Jaringan Goresan


Layout Name: Suara Gelombang
Layout By: annafarays
Images: Photobucket

ShoutMix - Live chat software

POSTED ON: <@ Wednesday, October 21, 2009 | 0 comments

Bunda...

di post di FB tgl 28 Agustus

Bu...hari ni genaplah sudah 17 tahun semua berlalu. Bukan waktu yang singkat Bu, dan tentu saja bukan hal yang mudah untuk meninggalkan perasaan sedih jauh ke sungai hingga mengalir terus ke muara.

Bu,apakabar Ibu disana ? Ibu baik baik saja khan ? Semoga Allah memberikan ibu tempat yang lapang, hangat serta benderang disisinya.

Bu, semua berjalan cepat waktu itu. Ibu mengeluh demam, lalu tiba tiba tak bisa melakukan apa. Semua panik meski adalah hal biasa dalam dua tahun sebelumnya Ibu menjadi langganan tetap rumah sakit itu. Tapi siang itu keadaan menjadi lain dan berubah dengan cepat tanpa bisa dikendalikan. Asma yang kambuh, tekanan darah yang fluktuatif serta tenaga yang kianmelemah dan diperparah tidak ada orang di rumah. Semua sibuk, kamisekolah, dan tetangga juga tidak begitu mengetahui keadaan itu.

Bu, masih saja ingat betapa kejamnya rumah sakit itu. Memang "Orang Miskin Dilarang Sakit". Tapi bukankah kita mempunyai jaminan bahwa kita tidak akan lari. Memang ajal ditangan Tuhan, tapi petugas apotek sialan itu ikut andil mempercepat datangnya Izrail. Semoga Allah mengutuk nya. Amiin.

Bu, kini sudah 17 tahun berlalu, semua berjalan sebagaimana memang sudah diatur Yang Maha Kuasa. Semua anak anakmu sudah berkeluarga, dan memberimu cucu. Semua juga mengarungi samudra hidupnya sendiri, meski hanya Bo yang berani meninggalkan kota itu, bahkan rumah itu. Tapi Bu, tidak sedetikpun pikiran keluar dari kehidupan di rumah kita, sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas di depannya.

Bu, terkadang timbul pertanyaan kapan kita semua akan berkumpul kembali, tidak banyak rasanya waktu yang bisa kita lalui bersama. Itulah nasib ya Bu. Kau harus berangkat bekerja ketika kami semua masih lelap dibuai mimpi dan pulang ketika kami semua juga sudah terdampar di pantai mimpi yang lain. Kata tetangga itulah resiko jadi anak pegawai negeri. Aku ingat meski hanya beberapa kepingan yang bisa disatukan, kita tinggal di gang sempit di Siteba, lalu berpindah ke Rd Saleh. Katamu Bo lahir dirumah itu, tidak sempat dibawa ke rumah sakit dan sunsang. Akh...memang bandel, sudah tidak sabaran, salah langkah pula.

Bu, Bo minta maaf telah mengecewakan Ibu. Bo tidak bisa menyelesaikan sekolah di tempat yang Ibu inginkan. Meski terasa aneh, sekolah disana memang menyenangkan, namun Bu, Bo bukan seorang penggemar pelajaran ilmu pasti. Bagaimana mungkin Bo bisa konsentrasi belajar di sekolah yang penuh dengan zat zat kimia, peralatan laboratorium canggih jika di rumah semua buku buku bacaan adalah buku sejarah yang terlalu seksi untuk tidak disentuh dan dibaca. Ah Bu..itulah kesalahan kita. Bo juga heran, kenapa bisa lulus dan diterima sekolah disitu dengan peringkat lumayan tinggi sementara nilai ilmu pasti di SMP hanya pas pasan. Aneh dan itulah dunia, dia menghadirkan apa saja yang tidak pernah kita duga.

Bu, waktu terus berjalan, langkah terseok tertatih menarik diri keluar dari semua ketidakpastian. Beruntung Bu, Ibu memiliki adik dan orang tua yang mau menjaga kami, dan melindungi kami, meski beberapa kali kami harus menjaminkan SK Pensiunmu ke Bank untuk biaya hidup dan sekolah kami berempat. Bahkan warisanmu juga kami jual agar sekolah kami semua selesai tepat waktu.

Bu, Bo belum cerita ya kalau Bo pernah jadi penjual sandal, pendaki gunung, ikut panjat tebing segala, penjual sate, calo mobil bekas, tukang catut karcis lapangan bola, penyiram bunga, Ball boy lapangan tenis dan seabrek profesi halal lainnya. Semuanya Bu, semuanya hanya untuk bertahan hidup agar tidak tergilas keganasan roda roda nasib. dan Allhamdulilah Bu, semua dijalani dengan harapan hidup akan berakhir manis.

Bu, Bo ingin sekali pulang, seperti dulu, duduk dan ikut kemana ibu pergi. Menikmati smur tahu kecap buatan Ibu, telur dadar, atau sambal semut api. Bu, sumpah Bo ingin itu. Tapi itu tidak mungkin ya Bu, tidak akan pernah mungkin terjadi.

Bu, Bo juga mau minta maaf entah untuk keberapa kali, Bo belum sempat pulang ke Padang, masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan disini. Doain ya Bu semua kerjaan Bo bisa diselesaikan dan lebaran nanti bisa pulang dan menemui Ibu.

Udah ya Bu, semoga damai dan tenang disana. Bo selalu kirim Al Fathehah kepada ibu, mendoakan agar keselamatan menjadi milik Ibu.

Sembah sujud ananda

← Older / Scroll Back Up / Newer →

Boby Lukman Suardi Piliang, A.Md

Boby Piliang

Lahir di Padang, 18 Juni 1976 di sebuah rumah kecil di Jalan Raden Saleh Padang. Ia memaksa ibunya untuk melahirkan di rumah. Diberi nama BOBY SUARDI, namun tak lama mendapat nama kehormatan dari buyutnya dengan penambahan LUKMAN (huruf besar) di antara dua kata menjadi BOBY LUKMAN SUARDI. Bergelar Sidi, tidak punya gelar adat. Dipanggil Boby di luar rumah, di panggil Bobo oleh orang dekat. Tahun terakhir memakai inisial BLP, P adalah PILIANG, dan menanggalkan nama Suardi karena tidak mau lagi memakainya. Menikah dengan Fitriani Lukman yang ditemuinya pertama kali di Stasiun Kereta Pondok Cina - Universitas Indonesia tahun 2006 lalu. Pernah bekerja sebagai wartawan, lalu keluar karena pingin jadi orang kaya. Punya istana kecil di Ladang Padi Hutan Raya Bung Hatta Padang, pernah di fitnah, dan kini kesepian di tengah keramaian. Pernah kecelakaan motor, pernah manjat tebing, pernah naik gunung dan jatuh dari atap rumah dan pernah kehujanan hingga menggigil dan selalu menangis ketika hujan tiba.

☮ 18 Juni 2000 !

Arsip Lama

→ In Memorium Harfianto (Wartawan POSMETRO PADANG) ...
→ Gamawan dan Kita yang Gelisah (sebuah ungkapan man...
→ Prasasti...Di halaman ini tertatam sebuah prasasti...
→ RESOLUSI NOMOR I/JAN/2009 DENGAN MEMPERHATIKAN KEA...
→ Clash Action Berita soal tingginya kunjungan wisat...
→ Selamat tahun baru...
→ Pergi.. Sesungguhnya ia sudah memberi sinyal jauh ...
→ Aku masih disini Aku masih disini, setia dengan k...
→ Kambuh.... Sakit di kaki dan bahu ini kambuh lagi...
→ Chat With Piensweet_pien: kok dipajang lagi sich f...

Arsip Bulan per Bulan

→ 05/01/2004 - 06/01/2004
→ 06/01/2004 - 07/01/2004
→ 07/01/2004 - 08/01/2004
→ 08/01/2004 - 09/01/2004
→ 09/01/2004 - 10/01/2004
→ 11/01/2004 - 12/01/2004
→ 12/01/2004 - 01/01/2005
→ 01/01/2005 - 02/01/2005
→ 02/01/2005 - 03/01/2005
→ 03/01/2005 - 04/01/2005
→ 04/01/2005 - 05/01/2005
→ 05/01/2005 - 06/01/2005
→ 07/01/2005 - 08/01/2005
→ 08/01/2005 - 09/01/2005
→ 09/01/2005 - 10/01/2005
→ 10/01/2005 - 11/01/2005
→ 11/01/2005 - 12/01/2005
→ 12/01/2005 - 01/01/2006
→ 01/01/2006 - 02/01/2006
→ 02/01/2006 - 03/01/2006
→ 03/01/2006 - 04/01/2006
→ 04/01/2006 - 05/01/2006
→ 05/01/2006 - 06/01/2006
→ 06/01/2006 - 07/01/2006
→ 07/01/2006 - 08/01/2006
→ 08/01/2006 - 09/01/2006
→ 09/01/2006 - 10/01/2006
→ 10/01/2006 - 11/01/2006
→ 11/01/2006 - 12/01/2006
→ 12/01/2006 - 01/01/2007
→ 01/01/2007 - 02/01/2007
→ 02/01/2007 - 03/01/2007
→ 03/01/2007 - 04/01/2007
→ 04/01/2007 - 05/01/2007
→ 05/01/2007 - 06/01/2007
→ 07/01/2007 - 08/01/2007
→ 09/01/2007 - 10/01/2007
→ 11/01/2007 - 12/01/2007
→ 02/01/2008 - 03/01/2008
→ 04/01/2008 - 05/01/2008
→ 05/01/2008 - 06/01/2008
→ 06/01/2008 - 07/01/2008
→ 07/01/2008 - 08/01/2008
→ 08/01/2008 - 09/01/2008
→ 10/01/2008 - 11/01/2008
→ 12/01/2008 - 01/01/2009
→ 01/01/2009 - 02/01/2009
→ 07/01/2009 - 08/01/2009
→ 10/01/2009 - 11/01/2009
→ 06/01/2010 - 07/01/2010
→ 07/01/2010 - 08/01/2010
→ 08/01/2010 - 09/01/2010
→ 11/01/2010 - 12/01/2010
→ 12/01/2010 - 01/01/2011
→ 09/01/2011 - 10/01/2011
→ 12/01/2011 - 01/01/2012
→ 01/01/2012 - 02/01/2012

My Cute One and Her Mom

Link | Link | Link | Link | Link | Link | Link | Link | Link

POSTED ON: | 0 comments

Bunda...

di post di FB tgl 28 Agustus

Bu...hari ni genaplah sudah 17 tahun semua berlalu. Bukan waktu yang singkat Bu, dan tentu saja bukan hal yang mudah untuk meninggalkan perasaan sedih jauh ke sungai hingga mengalir terus ke muara.

Bu,apakabar Ibu disana ? Ibu baik baik saja khan ? Semoga Allah memberikan ibu tempat yang lapang, hangat serta benderang disisinya.

Bu, semua berjalan cepat waktu itu. Ibu mengeluh demam, lalu tiba tiba tak bisa melakukan apa. Semua panik meski adalah hal biasa dalam dua tahun sebelumnya Ibu menjadi langganan tetap rumah sakit itu. Tapi siang itu keadaan menjadi lain dan berubah dengan cepat tanpa bisa dikendalikan. Asma yang kambuh, tekanan darah yang fluktuatif serta tenaga yang kianmelemah dan diperparah tidak ada orang di rumah. Semua sibuk, kamisekolah, dan tetangga juga tidak begitu mengetahui keadaan itu.

Bu, masih saja ingat betapa kejamnya rumah sakit itu. Memang "Orang Miskin Dilarang Sakit". Tapi bukankah kita mempunyai jaminan bahwa kita tidak akan lari. Memang ajal ditangan Tuhan, tapi petugas apotek sialan itu ikut andil mempercepat datangnya Izrail. Semoga Allah mengutuk nya. Amiin.

Bu, kini sudah 17 tahun berlalu, semua berjalan sebagaimana memang sudah diatur Yang Maha Kuasa. Semua anak anakmu sudah berkeluarga, dan memberimu cucu. Semua juga mengarungi samudra hidupnya sendiri, meski hanya Bo yang berani meninggalkan kota itu, bahkan rumah itu. Tapi Bu, tidak sedetikpun pikiran keluar dari kehidupan di rumah kita, sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas di depannya.

Bu, terkadang timbul pertanyaan kapan kita semua akan berkumpul kembali, tidak banyak rasanya waktu yang bisa kita lalui bersama. Itulah nasib ya Bu. Kau harus berangkat bekerja ketika kami semua masih lelap dibuai mimpi dan pulang ketika kami semua juga sudah terdampar di pantai mimpi yang lain. Kata tetangga itulah resiko jadi anak pegawai negeri. Aku ingat meski hanya beberapa kepingan yang bisa disatukan, kita tinggal di gang sempit di Siteba, lalu berpindah ke Rd Saleh. Katamu Bo lahir dirumah itu, tidak sempat dibawa ke rumah sakit dan sunsang. Akh...memang bandel, sudah tidak sabaran, salah langkah pula.

Bu, Bo minta maaf telah mengecewakan Ibu. Bo tidak bisa menyelesaikan sekolah di tempat yang Ibu inginkan. Meski terasa aneh, sekolah disana memang menyenangkan, namun Bu, Bo bukan seorang penggemar pelajaran ilmu pasti. Bagaimana mungkin Bo bisa konsentrasi belajar di sekolah yang penuh dengan zat zat kimia, peralatan laboratorium canggih jika di rumah semua buku buku bacaan adalah buku sejarah yang terlalu seksi untuk tidak disentuh dan dibaca. Ah Bu..itulah kesalahan kita. Bo juga heran, kenapa bisa lulus dan diterima sekolah disitu dengan peringkat lumayan tinggi sementara nilai ilmu pasti di SMP hanya pas pasan. Aneh dan itulah dunia, dia menghadirkan apa saja yang tidak pernah kita duga.

Bu, waktu terus berjalan, langkah terseok tertatih menarik diri keluar dari semua ketidakpastian. Beruntung Bu, Ibu memiliki adik dan orang tua yang mau menjaga kami, dan melindungi kami, meski beberapa kali kami harus menjaminkan SK Pensiunmu ke Bank untuk biaya hidup dan sekolah kami berempat. Bahkan warisanmu juga kami jual agar sekolah kami semua selesai tepat waktu.

Bu, Bo belum cerita ya kalau Bo pernah jadi penjual sandal, pendaki gunung, ikut panjat tebing segala, penjual sate, calo mobil bekas, tukang catut karcis lapangan bola, penyiram bunga, Ball boy lapangan tenis dan seabrek profesi halal lainnya. Semuanya Bu, semuanya hanya untuk bertahan hidup agar tidak tergilas keganasan roda roda nasib. dan Allhamdulilah Bu, semua dijalani dengan harapan hidup akan berakhir manis.

Bu, Bo ingin sekali pulang, seperti dulu, duduk dan ikut kemana ibu pergi. Menikmati smur tahu kecap buatan Ibu, telur dadar, atau sambal semut api. Bu, sumpah Bo ingin itu. Tapi itu tidak mungkin ya Bu, tidak akan pernah mungkin terjadi.

Bu, Bo juga mau minta maaf entah untuk keberapa kali, Bo belum sempat pulang ke Padang, masih banyak kegiatan yang harus diselesaikan disini. Doain ya Bu semua kerjaan Bo bisa diselesaikan dan lebaran nanti bisa pulang dan menemui Ibu.

Udah ya Bu, semoga damai dan tenang disana. Bo selalu kirim Al Fathehah kepada ibu, mendoakan agar keselamatan menjadi milik Ibu.

Sembah sujud ananda

← Older / Scroll Back Up / Newer →