BeElPe Arsip Jaringan Goresan


Layout Name: Suara Gelombang
Layout By: annafarays
Images: Photobucket

ShoutMix - Live chat software

POSTED ON: <@ Wednesday, June 23, 2010 | 0 comments

Hasil Survey Sebagai Alat Propaganda Politik

Media cetak terbitan Padang pekan lalu merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI) bahwa pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur Marlis Rahman - Aristo Munandar (MATO) memiliki tingkat elektabilitas tertinggi dibanding empat kandidat gubernur lainnya pada Pemilukada Sumbar, namun demikian, kemenangan MATO tidaklah terlalu signifikan sebab hanya terpaut sekian persen dibawahnya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim berada di posisi kedua dan ketiga pasangan lain menyusul di posisi tiga, empat dan lima.

Tak lama berselang, media media yang sama kembali berlomba merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survey INCOST yang justru malah sebaliknya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim sudah jauh leading dibanding empat pasang calon lainnya bahkan dengan perolehan suara yang memungkinkan pilkada cukup dilakukan satu putaran saja.

Saya tidak hendak mengomentari hasil survey, apalagi kemudian terjebak dalam bantah bantahan, sebab sebagai orang yang pernah terlibat dalam proses survey, saya faham betul, bahwa setiap hasil survey adalah buah dari sebuah pekerjaan akademik yang jelas dapat dipertanggungjawaban, sekali lagi dari sisi akademik.

Survey opini publik/jajak pendapat menjadi trend di Indonesia sejak tahun 2003 lalu, ketika trio Muhammad Qodari, Syaiful Mujani dan Deny JA mendirikan Lembaga Survey Indonesia. Pada perjalanannya kemudian hari, mereka bertiga menjadi motor bagi para ilmuwan politik lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Sebelumnya, jajak pendapat opini publik dilakukan untuk kalangan internal dan tidak dipublikasikan, namun seiring dinamika politik pada waktu itu, hasil jajak pendapat disiarkan melalui media secara masif dan berkelanjutan hingga hari ini.

Survey atau jajak pendapat jelas tidak bisa dibantah bahkan dengan kalimat apapun, karena pekerjaan ini jelas mengacu pada teory dan data statistik yang sudah ada serta dilakukan dalam koridor ilmu yang secara ketat mengatur tentang metodelogi dan sistimatikanya.

Kembali ke berita di berbagai media lokal di Padang yang sudah dua kali merilis hasil survey dari dua lembaga berbeda, saya mengingatkan kita semua betapa pentingnya untuk mengetahui metode penelitian yang dipakai serta penarikan sampelnya. Selain kemudian mengetahui pula track record lembaga survey tersebut. Dalam direktori Asosiasi Lembaga Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) saat ini tercatat puluhan lembaga survey berbagai skala pekerjaan aktif di Indonesia. Dan sudah tentu saja memiliki latar belakang berbeda.

Tidaklah sulit mendirikan lembaga survey, karena cukup dengan mengurus akta notaris lembaga, serta persyaratan administrasi lainnya, mempunyai analis politik dan ahli statistik, rasannya sudah cukup syarat untuk mendirikan sebuah lembaga survey.

Namun persoalannya, apakah setiap lembaga survey mempunyai analis politik dan ahli statistik yang dapat diandalkan ?, sebab dalam survey, kita menyatukan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu ilmu statistik dan ilmu sosial.

Iklan lembaga survey dan riset yang diterbitkan beberapa media harian terbitan hari Selasa dan Rabu pekan ini, lebih ditujukan untuk melakukan propganda politik atau menggertak lawan dalam sebuah pertarungan politik sambil mempeengaruhi opini pemilih agar beralih atau mengalihkan dukungan kepada calon yang didukungnya.

Sahkah ini ?, jelas sah sah saja, sebab dalam sebuah kampanye politik, sebuah attack campaign jelas dibolehkan. Saya setuju dengan iklan itu, namun tidak dengan hasil survey yang dirilis. Karena untuk mendapatkan responden sebanyak 7000 lebih seperti yang disebutkan, butuh biaya besar dan analisa yang komfrehensif serta tentu saja kita juga harus melihat quisionernya. Penyusunan quisioner jelas akan berpengaruh kepada hasil atau jawaban responden. Bukan tidak mungkin quisioner disusun sedemikian rupa sehingga responden tertuntun untuk menjawab sesuai yang diinginkan interviewer. Dan satu hal yang penting, si penyelenggara survey sendiri menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan hanya mencapai 95 persen, angka yang masih jauh dari maksimal.

Tapi apresiasi yang tinggi saya berikan kepada teman teman di lembaga tersebut sebagai awal dari sebuah proses positif menuju dialektika politik yang maju dan demokratis di ranah minang.

Salam

BOBY LUKMAN PILIANG
(Tim Kampanye MARLIS - ARISTO)

← Older / Scroll Back Up / Newer →

Boby Lukman Suardi Piliang, A.Md

Boby Piliang

Lahir di Padang, 18 Juni 1976 di sebuah rumah kecil di Jalan Raden Saleh Padang. Ia memaksa ibunya untuk melahirkan di rumah. Diberi nama BOBY SUARDI, namun tak lama mendapat nama kehormatan dari buyutnya dengan penambahan LUKMAN (huruf besar) di antara dua kata menjadi BOBY LUKMAN SUARDI. Bergelar Sidi, tidak punya gelar adat. Dipanggil Boby di luar rumah, di panggil Bobo oleh orang dekat. Tahun terakhir memakai inisial BLP, P adalah PILIANG, dan menanggalkan nama Suardi karena tidak mau lagi memakainya. Menikah dengan Fitriani Lukman yang ditemuinya pertama kali di Stasiun Kereta Pondok Cina - Universitas Indonesia tahun 2006 lalu. Pernah bekerja sebagai wartawan, lalu keluar karena pingin jadi orang kaya. Punya istana kecil di Ladang Padi Hutan Raya Bung Hatta Padang, pernah di fitnah, dan kini kesepian di tengah keramaian. Pernah kecelakaan motor, pernah manjat tebing, pernah naik gunung dan jatuh dari atap rumah dan pernah kehujanan hingga menggigil dan selalu menangis ketika hujan tiba.

☮ 18 Juni 2000 !

Arsip Lama

→ Bunda... di post di FB tgl 28 Agustus Bu...hari...
→ In Memorium Harfianto (Wartawan POSMETRO PADANG) ...
→ Gamawan dan Kita yang Gelisah (sebuah ungkapan man...
→ Prasasti...Di halaman ini tertatam sebuah prasasti...
→ RESOLUSI NOMOR I/JAN/2009 DENGAN MEMPERHATIKAN KEA...
→ Clash Action Berita soal tingginya kunjungan wisat...
→ Selamat tahun baru...
→ Pergi.. Sesungguhnya ia sudah memberi sinyal jauh ...
→ Aku masih disini Aku masih disini, setia dengan k...
→ Kambuh.... Sakit di kaki dan bahu ini kambuh lagi...

Arsip Bulan per Bulan

→ 05/01/2004 - 06/01/2004
→ 06/01/2004 - 07/01/2004
→ 07/01/2004 - 08/01/2004
→ 08/01/2004 - 09/01/2004
→ 09/01/2004 - 10/01/2004
→ 11/01/2004 - 12/01/2004
→ 12/01/2004 - 01/01/2005
→ 01/01/2005 - 02/01/2005
→ 02/01/2005 - 03/01/2005
→ 03/01/2005 - 04/01/2005
→ 04/01/2005 - 05/01/2005
→ 05/01/2005 - 06/01/2005
→ 07/01/2005 - 08/01/2005
→ 08/01/2005 - 09/01/2005
→ 09/01/2005 - 10/01/2005
→ 10/01/2005 - 11/01/2005
→ 11/01/2005 - 12/01/2005
→ 12/01/2005 - 01/01/2006
→ 01/01/2006 - 02/01/2006
→ 02/01/2006 - 03/01/2006
→ 03/01/2006 - 04/01/2006
→ 04/01/2006 - 05/01/2006
→ 05/01/2006 - 06/01/2006
→ 06/01/2006 - 07/01/2006
→ 07/01/2006 - 08/01/2006
→ 08/01/2006 - 09/01/2006
→ 09/01/2006 - 10/01/2006
→ 10/01/2006 - 11/01/2006
→ 11/01/2006 - 12/01/2006
→ 12/01/2006 - 01/01/2007
→ 01/01/2007 - 02/01/2007
→ 02/01/2007 - 03/01/2007
→ 03/01/2007 - 04/01/2007
→ 04/01/2007 - 05/01/2007
→ 05/01/2007 - 06/01/2007
→ 07/01/2007 - 08/01/2007
→ 09/01/2007 - 10/01/2007
→ 11/01/2007 - 12/01/2007
→ 02/01/2008 - 03/01/2008
→ 04/01/2008 - 05/01/2008
→ 05/01/2008 - 06/01/2008
→ 06/01/2008 - 07/01/2008
→ 07/01/2008 - 08/01/2008
→ 08/01/2008 - 09/01/2008
→ 10/01/2008 - 11/01/2008
→ 12/01/2008 - 01/01/2009
→ 01/01/2009 - 02/01/2009
→ 07/01/2009 - 08/01/2009
→ 10/01/2009 - 11/01/2009
→ 06/01/2010 - 07/01/2010
→ 07/01/2010 - 08/01/2010
→ 08/01/2010 - 09/01/2010
→ 11/01/2010 - 12/01/2010
→ 12/01/2010 - 01/01/2011
→ 09/01/2011 - 10/01/2011
→ 12/01/2011 - 01/01/2012
→ 01/01/2012 - 02/01/2012

My Cute One and Her Mom

Link | Link | Link | Link | Link | Link | Link | Link | Link

POSTED ON: | 0 comments

Hasil Survey Sebagai Alat Propaganda Politik

Media cetak terbitan Padang pekan lalu merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI) bahwa pasangan Calon Gubernur/Wakil Gubernur Marlis Rahman - Aristo Munandar (MATO) memiliki tingkat elektabilitas tertinggi dibanding empat kandidat gubernur lainnya pada Pemilukada Sumbar, namun demikian, kemenangan MATO tidaklah terlalu signifikan sebab hanya terpaut sekian persen dibawahnya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim berada di posisi kedua dan ketiga pasangan lain menyusul di posisi tiga, empat dan lima.

Tak lama berselang, media media yang sama kembali berlomba merilis hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga survey INCOST yang justru malah sebaliknya, pasangan Irwan Prayitno - Muslim Kasim sudah jauh leading dibanding empat pasang calon lainnya bahkan dengan perolehan suara yang memungkinkan pilkada cukup dilakukan satu putaran saja.

Saya tidak hendak mengomentari hasil survey, apalagi kemudian terjebak dalam bantah bantahan, sebab sebagai orang yang pernah terlibat dalam proses survey, saya faham betul, bahwa setiap hasil survey adalah buah dari sebuah pekerjaan akademik yang jelas dapat dipertanggungjawaban, sekali lagi dari sisi akademik.

Survey opini publik/jajak pendapat menjadi trend di Indonesia sejak tahun 2003 lalu, ketika trio Muhammad Qodari, Syaiful Mujani dan Deny JA mendirikan Lembaga Survey Indonesia. Pada perjalanannya kemudian hari, mereka bertiga menjadi motor bagi para ilmuwan politik lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Sebelumnya, jajak pendapat opini publik dilakukan untuk kalangan internal dan tidak dipublikasikan, namun seiring dinamika politik pada waktu itu, hasil jajak pendapat disiarkan melalui media secara masif dan berkelanjutan hingga hari ini.

Survey atau jajak pendapat jelas tidak bisa dibantah bahkan dengan kalimat apapun, karena pekerjaan ini jelas mengacu pada teory dan data statistik yang sudah ada serta dilakukan dalam koridor ilmu yang secara ketat mengatur tentang metodelogi dan sistimatikanya.

Kembali ke berita di berbagai media lokal di Padang yang sudah dua kali merilis hasil survey dari dua lembaga berbeda, saya mengingatkan kita semua betapa pentingnya untuk mengetahui metode penelitian yang dipakai serta penarikan sampelnya. Selain kemudian mengetahui pula track record lembaga survey tersebut. Dalam direktori Asosiasi Lembaga Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) saat ini tercatat puluhan lembaga survey berbagai skala pekerjaan aktif di Indonesia. Dan sudah tentu saja memiliki latar belakang berbeda.

Tidaklah sulit mendirikan lembaga survey, karena cukup dengan mengurus akta notaris lembaga, serta persyaratan administrasi lainnya, mempunyai analis politik dan ahli statistik, rasannya sudah cukup syarat untuk mendirikan sebuah lembaga survey.

Namun persoalannya, apakah setiap lembaga survey mempunyai analis politik dan ahli statistik yang dapat diandalkan ?, sebab dalam survey, kita menyatukan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu ilmu statistik dan ilmu sosial.

Iklan lembaga survey dan riset yang diterbitkan beberapa media harian terbitan hari Selasa dan Rabu pekan ini, lebih ditujukan untuk melakukan propganda politik atau menggertak lawan dalam sebuah pertarungan politik sambil mempeengaruhi opini pemilih agar beralih atau mengalihkan dukungan kepada calon yang didukungnya.

Sahkah ini ?, jelas sah sah saja, sebab dalam sebuah kampanye politik, sebuah attack campaign jelas dibolehkan. Saya setuju dengan iklan itu, namun tidak dengan hasil survey yang dirilis. Karena untuk mendapatkan responden sebanyak 7000 lebih seperti yang disebutkan, butuh biaya besar dan analisa yang komfrehensif serta tentu saja kita juga harus melihat quisionernya. Penyusunan quisioner jelas akan berpengaruh kepada hasil atau jawaban responden. Bukan tidak mungkin quisioner disusun sedemikian rupa sehingga responden tertuntun untuk menjawab sesuai yang diinginkan interviewer. Dan satu hal yang penting, si penyelenggara survey sendiri menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan hanya mencapai 95 persen, angka yang masih jauh dari maksimal.

Tapi apresiasi yang tinggi saya berikan kepada teman teman di lembaga tersebut sebagai awal dari sebuah proses positif menuju dialektika politik yang maju dan demokratis di ranah minang.

Salam

BOBY LUKMAN PILIANG
(Tim Kampanye MARLIS - ARISTO)

← Older / Scroll Back Up / Newer →